PENELITIAN 2021–2026

Dari Pendopoke Platform

Perjalanan Penelitian Media Hiperlokal untuk Pelestarian Budaya Lokal, 2021–2026

Rangkaian sembilan publikasi yang menelusuri bagaimana media komunitas budaya di Prambanan, Klaten, bertransformasi dari saluran lokal menjadi ekosistem hiperlokal: partisipasi, multiplatform, ruang publik, literasi digital, dan inovasi terbuka.

Rocky Prasetyo Jati · Universitas Budi Luhur · September 2026

SINTESIS TRAJEKTORI

Media komunitas
Media hiperlokal
Komunikasi kooperatif
Orkestrasi multiplatform
Ruang publik lokal
Literasi digital & open innovation
Model operasional media hiperlokal

ORIENTASI

Mengapa perjalanan ini penting

Situs ini tidak menelaah tiap artikel secara terpisah. Rentang 2021–2026 dibaca sebagai satu program penelitian yang berkelanjutan. Publikasi 2021–2022 menjadi fondasi pra-roadmap, sedangkan 2023–2026 mengisi roadmap formal menuju model operasional media hiperlokal.

Lokus empiris

Bali Buja (Paguyuban Peduli Budaya Jawa), berdiri 2002 di Desa Tlogo, Prambanan, Klaten. Galuh Prambanan TV adalah kanal media komunitas yang mendokumentasikan karawitan, wayang, dan kehidupan seni lintas generasi—dari pendopo ke YouTube, Facebook, dan kanal digital lain.

FASE FONDASI KONSEPTUAL

2021

Fondasi konseptual

PERTANYAAN DOMINAN

Bagaimana komunitas budaya memakai teknologi untuk melampaui keterbatasan media konvensional tanpa kehilangan basis komunitas?

  • platform hiperlokal
  • media komunitas
  • local culture

PERGESERAN

media sebagai saluranmedia sebagai platform

Dua publikasi 2021 menempatkan media hiperlokal sebagai inovasi media komunitas, bukan hanya jurnalisme lokal. Unit analisis bergeser: dari “media sebagai saluran” menjadi “media sebagai platform”.

Tangkapan layar kanal YouTube Galuh Prambanan TV menampilkan deretan pesinden berkebaya dalam pentas karawitan.
Dokumentasi lapangan · kanal YouTube Galuh Prambanan TV, pentas pesinden · sumber artikel 2021

Artikel “Local Culture Through Hyperlocal Media Using New Media Platforms” menunjukkan Bali Buja menggabungkan radio komunitas, Facebook, YouTube, dan live streaming. Lokalitas tetap sumber identitas; daya jangkau tidak lagi terkurung geografi.

Tangkapan layar siaran langsung Facebook Galuh Prambanan TV dengan pembawa acara Sentot Murdoko dan kolom komentar penonton.
Dokumentasi lapangan · siaran langsung Facebook, pembawa acara Sentot Murdoko · sumber artikel 2021

“Hyperlocal Media: Promoting Local Culture” membedakan hiperlokal budaya dari tradisi studi hyperlocal news. Konten seni membawa makna dan identitas, bukan hanya fakta.

Komunitas media tidak lagi dipahami terutama sebagai satu produk atau kanal, melainkan sebagai platform hiperlokal.
  • RADIO
  • FACEBOOK
  • YOUTUBE
  • LIVE STREAMING
Empat titik masuk produksi Bali Buja pada fase fondasi.
  • RADIO KOMUNITAS
  • FACEBOOK
  • YOUTUBE
  • = PLATFORM
Radio komunitas + Facebook + YouTube = platform, bukan sekadar siaran.

KONSOLIDASI EMPIRIS

2022

Konsolidasi empiris

PERTANYAAN DOMINAN

Bagaimana integrasi daring–luring membuat komunitas lebih mandiri dalam merepresentasikan budayanya?

  • online–offline
  • cultural resilience
  • kemandirian komunitas

PERGESERAN

adopsi teknologikapasitas representasi budaya

“Advancing Local Culture Through Hyperlocal Media” memperkuat argumen 2021 lewat observasi lebih terarah pada Bali Buja dan Galuh Prambanan TV.

Pentas karawitan Paguyuban Pandanaran di Bayat, Klaten, dengan pengrawit dan pesinden lengkap di panggung.
Dokumentasi lapangan · pentas Paguyuban Karawitan Pandanaran, Bayat, Klaten · sumber artikel 2022

Hiperlokal menjadi jawaban atas terbatasnya akses komunitas budaya ke media arus utama. Pergeseran dari ketergantungan radio komunitas ke YouTube dan media sosial memberi otonomi produksi, tetap berakar pada tujuan sosial-komunal.

Fokus riset bergerak dari “adopsi teknologi” ke “bagaimana teknologi mengubah kapasitas komunitas mengelola representasi budayanya sendiri”.

Independensi digital komunitas tetap berakar pada tujuan sosial, bukan semata orientasi komersial.
DARINGLURING
Daring dan luring bekerja sebagai satu sirkuit produksi.
  • LURING
  • DARING
  • OTONOMI PRODUKSI
Pendopo dan kanal digital bekerja sebagai satu sirkuit produksi budaya.

PEMBERDAYAAN

2023

Pemberdayaan

PERTANYAAN DOMINAN

Bagaimana media komunitas dipertahankan melalui kerja bersama?

  • komunikasi kooperatif
  • pemberdayaan
  • kohesi sosial

PERGESERAN

perangkatrelasi sosial sebagai infrastruktur

“Memberdayakan Komunitas: Komunikasi Kooperatif Dalam Platform Media Komunitas” menggeser titik berat dari perangkat ke relasi sosial.

Meja kontrol siaran di pendopo: monitor multiview, mixer audio, dan kabel di depan panggung pengrawit.
Dokumentasi lapangan · ruang kontrol siaran di pendopo, mixer dan monitor · sumber artikel 2023

Media komunitas adalah ruang pelestarian budaya, partisipasi sipil, dan kohesi sosial. Produksi konten membutuhkan orkestrasi antara pengelola Bali Buja, tim Galuh Prambanan TV, kelompok seni, relawan, dan khalayak.

Pengrawit dan pesinden duduk bersila di pendopo lengkap dengan gamelan saat pentas berlangsung.
Dokumentasi lapangan · pengrawit dan pesinden dalam pentas pendopo · sumber artikel 2023

Keberhasilan hiperlokal mulai dipahami sebagai hasil tata hubungan komunitas, bukan sekadar kecanggihan kanal.

Teknologi tetap relevan, tetapi infrastruktur yang menahan media tetap hidup adalah kerja kooperatif.
  • Bali Buja
  • Tim GPTV
  • Kelompok seni
  • Relawan
  • Khalayak
Konstelasi aktor dengan bobot setara.
  • PENGELOLA
  • KELOMPOK SENI
  • RELAWAN
  • KHALAYAK
Simpul-simpul kooperatif yang menjaga produksi tetap berjalan.

IMPLEMENTASI

2024

Implementasi

PERTANYAAN DOMINAN

Bagaimana model hiperlokal dijalankan dan dipertahankan?

  • multiplatform
  • Community
  • Commitment
  • Continuity

PERGESERAN

apakah teknologi membantu?bagaimana teknologi, partisipasi, dan kontinuitas diorganisasikan?

“Menjaga Tradisi di Era Digital” menguji model hiperlokal di Galuh Prambanan TV melalui live streaming, YouTube, media sosial, dan kemungkinan podcast.

Kru berjaket Bali Buja duduk di meja kontrol produksi menghadap monitor saat pentas gamelan berlangsung.
Dokumentasi lapangan · kru berjaket Bali Buja di meja kontrol produksi · sumber artikel 2024

Multiplatform bukan memperbanyak saluran. Setiap kanal adalah titik kontak berbeda: dokumentasi, distribusi, interaksi, dan akses ulang.

Lima pesinden berkebaya duduk berjajar di depan mikrofon dalam pentas yang disiarkan Galuh Prambanan TV.
Dokumentasi lapangan · lima pesinden dalam satu pentas yang disiarkan · sumber artikel 2024

Artikel Three Cs memformalkan prasyarat keberlanjutan: Community (keterlibatan warga), Commitment (dedikasi jangka panjang produksi dan konsumsi), Continuity (kesinambungan pengelolaan konten).

Pertanyaan riset bergeser dari “apakah teknologi membantu?” menjadi “bagaimana teknologi, partisipasi, dan kontinuitas diorganisasikan?”
  • CCommunityketerlibatan warga
  • CCommitmentdedikasi jangka panjang
  • CContinuitykesinambungan konten
Tiga prasyarat keberlanjutan model hiperlokal.

EKOSISTEM

2025

Ekosistem

PERTANYAAN DOMINAN

Bagaimana media menjadi ruang publik lokal dan mengorkestrasi distribusi budaya?

  • local public space
  • digital archive
  • collaborative governance

PERGESERAN

alat siaranruang publik, arsip, dan tata kelola

“Transforming Local Public Space Through Hyperlocal Media” menempatkan hiperlokal sebagai ruang publik yang sedang tumbuh. Lima elemen: ruang budaya, pengelolaan kolektif, dialog aktif, komitmen pelestarian, kontinuitas konten.

Kameramen komunitas mengoperasikan kamera di atas tripod, membidik pentas gamelan dari sisi pendopo.
Dokumentasi lapangan · kameramen komunitas membidik pentas dari sisi pendopo · sumber artikel 2025

Produsen dan khalayak sama-sama anggota komunitas yang membentuk makna. Kedekatan geografis tetap relevan, tetapi rasa kepemilikan terhadap konten sama pentingnya.

“Hyperlocal Multiplatform Approach for Cultural Preservation” memperdalam orkestrasi lintas platform: jangkauan seni tradisional melebar, partisipasi menguat, arsip digital menjadi sumber pembelajaran dan regenerasi. Keberhasilan digitalisasi bergantung pada etika digital berbasis kearifan lokal dan tata kelola kolaboratif, bukan hanya kapasitas teknis.

Hiperlokal adalah ekosistem sosial-teknologis: ruang publik, arsip, partisipasi, identitas, dan distribusi.
  • Ruang budaya
  • Pengelolaan kolektif
  • Dialog aktif
  • Komitmen pelestarian
  • Kontinuitas konten

Produksi → Distribusi → Arsip → Regenerasi

Lima elemen ruang publik dan putaran produksi–distribusi–arsip–regenerasi.
  • RUANG BUDAYA
  • PENGELOLAAN KOLEKTIF
  • DIALOG AKTIF
  • ARSIP DIGITAL
Lima elemen ruang publik lokal yang tumbuh dari praktik hiperlokal.

INTERVENSI DAN PENGUKURAN

2026

Intervensi dan pengukuran

PERTANYAAN DOMINAN

Apakah penguatan kapasitas komunitas menghasilkan dampak terukur dan model yang dapat direplikasi?

  • digital literacy
  • PAR
  • open innovation
  • Community Media Team

PERGESERAN

deskripsi praktikpengujian perubahan

“Grassroots Hyperlocal Media for Digital Literacy and Intangible Cultural Heritage in the Global South” memakai participatory action research lima tahap: sosialisasi, pelatihan literasi digital, penerapan teknologi produksi profesional, pendampingan, perencanaan keberlanjutan.

Peserta pelatihan duduk mengelilingi meja di bawah spanduk Optimalisasi Media Sosial Bali Buja dan Galuh Prambanan TV, Klaten, 28–30 November 2025.
Dokumentasi lapangan · pelatihan Optimalisasi Media Sosial Bali Buja & Galuh Prambanan TV, Klaten 28–30 November 2025 · sumber artikel 2026

Open innovation dirumuskan dalam tiga jalur: inbound (transfer pengetahuan universitas ke komunitas), outbound (produksi dan distribusi konten budaya oleh komunitas), coupled (kemitraan lintas sektor). Community Media Team menjadi perantara inovasi endogen setelah pendampingan eksternal selesai.

Angka-angka berikut dibaca sebagai bukti dalam narasi riset, bukan indikator kinerja startup.

Teknologi adalah sarana. Keberlanjutan bergantung pada tata kelola, kapasitas komunitas, dan kemampuan menjaga fungsi platform.

Selama program

+0,0%

rata-rata impressions per video

Periode otonom Jan–Apr 2026

+0%

views per video

+0%

impressions per video

Kanal

0

subscriber

0

views / 90 hari

0%

organic traffic

Bukti kuantitatif periode pendampingan dan periode otonom komunitas.

JEMBATAN

Dari media-sentris ke ekosistem

  • Pertanyaan dominan

    Bagaimana teknologi memperluas media komunitas tanpa mencabut akar lokalitas?

    Konsep kunci

    platform hiperlokal · media komunitas · integrasi daring–luring

    Arah kontribusi

    Merumuskan hiperlokal budaya sebagai platform, bukan kanal.

PERKEMBANGAN METODOLOGIS

Cara membaca berubah seiring pertanyaannya

  1. 2021–2023

    Kualitatif eksploratif

    Etnografi, wawancara, observasi, dan studi kasus. Fase eksploratif yang merumuskan kategori hiperlokal untuk komunitas budaya.

  2. 2024–2025

    Etnografi + aksi

    Etnografi tetap dominan, ditambah ethnographic action research. Peneliti tidak hanya mengamati, tetapi masuk ke refleksi praktik.

  3. 2026

    PAR + pengukuran

    Participatory action research, asesmen literasi digital, dan analitik YouTube Studio. Deskripsi praktik bertemu pengujian perubahan yang terukur.

Pendekatan kuantitatif tidak mengganti etnografi; ia menambah lapisan evaluasi.

LIMA KONTRIBUSI KUMULATIF

Apa yang bertambah dari satu artikel ke artikel berikutnya

  1. Memperluas hiperlokal dari jurnalisme lokal ke media komunitas budaya dan ekspresi seni.

  2. Lokalitas tidak identik dengan batas geografi; konten boleh beredar luas selama produksi, kepemilikan, dan relevansi tetap berakar pada komunitas.

  3. Partisipasi, komunikasi kooperatif, dan tata kelola sama pentingnya dengan teknologi.

  4. Multiplatform berkembang dari distribusi simultan menjadi orkestrasi fungsi kanal, arsip, dan interaksi.

  5. Fase terbaru menghubungkan hiperlokal dengan literasi digital, open innovation, dan indikator dampak.

MODEL OPERASIONAL

Lima komponen yang saling menopang

  • 01

    Tata kelola partisipatif & kesinambungan kewenangan

  • 02

    Kurasi berbasis nilai budaya

  • 03

    Orkestrasi data & arsip

  • 04

    Distribusi multiplatform & platform-fit

  • 05

    Pengukuran keterlibatan & keberlanjutan sumber daya

Model tidak bergantung pada satu teknologi atau kanal, melainkan pada pengaturan hubungan antara budaya, komunitas, data, platform, dan tata kelola.

DAFTAR PUBLIKASI

Sembilan publikasi, 2021–2026

  1. [1]2021

    Jati, R. P.

    Local Culture Through Hyperlocal Media Using New Media Platforms

    International Journal of Science and Applied Science: Conference Series, 5(1), 104–115

    DOI: 10.20961/ijsascs.v5i1.62089
  2. [2]2021

    Jati, R. P.

    Hyperlocal Media: Promoting Local Culture

    RSF Conference Series: Business, Management and Social Sciences, 1(6), 9–15

    DOI: 10.31098/bmss.v1i6.462
  3. [3]2022

    Jati, R. P.

    Advancing Local Culture Through Hyperlocal Media

    International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 9(2), 362–369

    DOI: 10.18415/ijmmu.v9i2.3522
  4. [4]2023

    Jati, R. P.

    Memberdayakan Komunitas: Komunikasi Kooperatif Dalam Platform Media Komunitas

    Communication, 14(2), 190–205

  5. [5]2024

    Jati, R. P., Nugroho, P., & Kutanto, H.

    Menjaga Tradisi di Era Digital: Penerapan Model Media Hiperlokal Pada Media Komunitas

    Avant Garde, 12(2), 245–260

  6. [6]2024
  7. [7]2025

    Jati, R. P.

    Transforming Local Public Space Through Hyperlocal Media: A Cultural Community Perspective

    Bricolage: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi, 11(1), 151–164

  8. [8]2025
  9. [9]2026

    Jati, R. P., Misky, F., & Anggraini, J. P.

    Grassroots Hyperlocal Media for Digital Literacy and Intangible Cultural Heritage in the Global South

    Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 12, 100831

    DOI: 10.1016/j.joitmc.2026.100831

ROADMAP PENELITIAN

Dari kajian ke model, 2023–2028

Publikasi 2021–2026 mengisi peta ini. Fondasi pra-roadmap (2021–2022) sudah lewat. Situs ini menempatkan artikel yang sudah terbit pada lintasan menuju model media hiperlokal untuk media komunitas.

PASAR

  • 2026–2027

    Media alternatif/media komunitas berbasis media hiperlokal untuk Komunitas Budaya

  • 2027–2028

    Model Media Hiperlokal untuk Media Komunitas

PRODUK

  • 2024–2025

    Aplikasi teknologi media terintegrasi untuk media hiperlokal

  • 2025–2026

    Aplikasi pengelolaan media komunitas berbasis hiperlokal

TEKNOLOGI

  • 2023–2024

    Media komunitas berbasis konvergensi media digital

  • 2023–2024

    Pengembangan model media hiperlokal

  • 2024–2025

    Penerapan organisasi media daring untuk media komunitas

  • 2024–2025

    Optimalisasi hiperlokalitas media siaran

  • 2025–2026

    Penerapan multi-platform untuk media hiperlokal

R & D

Kajian media komunitas dan media hiperlokal

Pengkajian dan pengembangan media komunitas dengan model media hiperlokal

PENUTUP

Bukan jumlah artikel, melainkan kontinuitas argumentasi

Nilai utama rangkaian ini bukan terletak pada jumlah artikel, melainkan pada kontinuitas argumentasi dan akumulasi bukti yang terbangun sejak 2021. Setiap fase memperbaiki fase sebelumnya: konsep diuji di lapangan, temuan lapangan mempertajam konsep, dan praktik komunitas menjadi dasar bagi rumusan yang lebih operasional. Dari pendopo Bali Buja hingga kanal Galuh Prambanan TV, penelitian ini bergerak menuju model media hiperlokal yang tidak hanya deskriptif, tetapi dapat dijalankan, diukur, dan diuji ulang di konteks komunitas budaya lain—dengan tata kelola, kurasi, dan keberlanjutan sebagai porosnya.

Rocky Prasetyo Jati

Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif

Universitas Budi Luhur

September 2026